Kesadaran masyarakat dunia terhadap kelestarian alam kini mulai merambah ke sektor yang mungkin jarang terpikirkan sebelumnya, yaitu infrastruktur pendukung pariwisata. Salah satu fenomena yang sedang naik daun adalah penerapan Destinasi Wisata Hijau yang tidak hanya fokus pada keindahan alamnya, tetapi juga pada fasilitas parkir yang ramah lingkungan. Konsep ini muncul sebagai jawaban atas kekhawatiran rusaknya ekosistem akibat pembangunan lahan parkir beton yang masif di kawasan konservasi atau hutan lindung. Dengan pendekatan ini, area parkir bukan lagi sekedar aspal panas, melainkan bagian dari sistem resapan udara yang estetis.
Ciri khas dari sistem parkir di Destinasi Wisata Hijau adalah penggunaan material yang bersifat porus atau berpori. Alih-alih menutup seluruh permukaan tanah dengan semen atau aspal kedap udara, pengelola mulai beralih menggunakan grass block atau paving berlubang yang memungkinkan rumput tetap tumbuh di sela-selanya. Hal ini sangat penting untuk menjaga siklus hidrologi tanah, sehingga air hujan dapat langsung meresap ke dalam tanah tanpa menyebabkan erosi atau terakumulasinya udara yang merusak pemandangan. Selain itu, suhu di area parkir menjadi jauh lebih sejuk karena tanaman hijau membantu menyerap panas matahari secara alami.
Penyediaan fasilitas pengisian daya kendaraan listrik juga menjadi bagian integral dari Destinasi Wisata Hijau masa kini. Mengingat tren penggunaan mobil dan motor listrik yang semakin meningkat, pengelola tempat wisata mulai menyediakan stasiun pengisian daya yang sumber energinya berasal dari panel surya di atap area parkir. Dengan begitu, jejak karbon yang dihasilkan oleh wisatawan dapat ditekan seminimal mungkin sejak mereka memarkirkan kendaraannya. Fasilitas ini menjadi nilai tambah yang sangat besar bagi wisatawan modern yang sangat peduli terhadap isu-isu lingkungan dan pengurangan polusi udara di tempat wisata.
Selain aspek teknis, penataan vegetasi di sekeliling area parkir Destinasi Wisata Hijau juga dirancang untuk menciptakan ketenangan visual. Pohon-pohon peneduh lokal ditanam sedemikian rupa agar kendaraan terlindung dari sinar matahari langsung, sehingga pengunjung tidak merasa kepanasan saat kembali ke mobil mereka. Beberapa destinasi bahkan menerapkan sistem parkir yang agak jauh dari lokasi utama, kemudian menyediakan layanan shuttle listrik atau jalur jalan kaki yang asri. Tujuannya adalah untuk mengurangi gangguan dan polusi suara di dalam area inti wisata, sehingga kicauan burung dan desiran angin tetap menjadi suara dominan yang dinikmati wisatawan.
